Rabu, 10 Desember 2014

Hati yang Layu



Pagi ini matahari bersinar terang. Sangat khas sinar matahari dibulan Agustus. Terlihat kesibukan disalah satu rumah didaerah perumahan sederhana pinggiran kota Semarang. Ya, rumah itu adalah rumah milik keluarga Nurudin. Keluarga kecil yang terlihat bahagia, namun akan lebih baik jika menengok lebih dalam. Karena yang terlihat bisa jadi bukan yang sebenarnya terjadi.
“Maninah.. kenapa kopiku belum jadi?” suara serak khas bangun tidur milik Nurudin memenuhi dapur kecil mereka. Nurudin melihat istrinya sibuk memasak entah apalah, ia tidak tahu.
“Maaf pak, ibu belum sempet membuat kopi untuk bapak. Beni...”
Praanggg
Belum sempat Maninah menyelesaikan kalimatnya, ia melihat dari ekor mata suaminya melempar gelas yang ada di meja. “Belum sempat bikin kopi?” suara Nurudin melengking tinggi. Membuat Maninah berjingkat kaget.
“astaghfirullah bapak.. kok dibanting gelasnya?” Maninah mengelus dada. “Beni sedang sakit pak, demam sejak semalam. Ibu tadi buat bubur untuk Beni biar segera sarapan lalu periksa ke Puskesmas.” Jelas Maninah tanpa ditanya.
“Halah ! alasan saja kamu. Bilang saja sudah tak sudi mengurus suami atau sudah bosan?” tuduh Nurudin. Maninah menatap tak percaya pada suami yang sudah enam belas tahun ini hidup bersama dengannya.
“Bapak ngomong apa? mana mungkin ibu berpikiran seperti itu..” Nurudin hanya melengos, mencomot bakwan di meja lalu berlalu kedalam rumah.

                                                                        ***
Didalam kamar Beni mendengar pertengkaran itu. Lagi. Dan lagi. Rasanya ia sudah bosan dan muak. Ingin sekali ia bangkit dari tempat tidur dan melerai mereka. Meminta ibunya untuk melawan bapaknya, namun keinginannya tak terwujud. Bukan karena ibunya pasti tak kan mau mendengarkan nasihatnya untuk melawan bapak tetapi karena ia kesulitan untuk bangun. Beni merasa semuanya berputar-putar dan merasa mual.
“Wah anak ibu sudah bangun..” Maninah masuk, berbinar melihat anaknya terlihat lebih baik daripada keadaannya semalam. “Ayo sarapan dulu, nanti kita pergi ke puskesmas.”
Beni hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya lagi, sudah cukup permasalahan yang ada. Ia teringat dulu saat ia kecil, keadaan keluarganya sangat harmonis. Kedua orang tuanya saling menyayangi. Tapi seolah ada badai yang merenggut semua kebahagiaan itu hingga tak ada yang tersisa. Bapak berubah menjadi orang tempramental dan kasar. Bahkan pada Neni, adik Beni yang baru berusia tujuh tahun pun tak luput dari tindakan kasar bapak.
“Beni udah merasa agak mendingan bu.. sudah tidak apa-apa Beni makan bubur ini sendiri. Ibu buatkan kopi saja untuk bapak dan Neni pasti butuh bantuan ibu untuk siap-siap sekolah.”
“kamu beneran bisa Ben?” ibu terlihat cemas.
“Bisa bu.. ibu tidak usah khawatir.” Akhirnya ibu tersenyum.
                                                                        ***
Pagi tadi setelah sarapan bapak langsung pergi. Memang selain emosi dan perangai bapak berubah,  ia juga menjadi sering keluar rumah. Ia tetap bekerja sebagai supir pribadi salah satu orang terpandang di kota ini. Menurut Beni, bapak berubah kira-kira sejak dua tahun lalu yaitu ketika Beni mulai masuk SMP.
“Ben, ibu sudah siap. Bagaimana berangkat sekarang?” tanya ibu didepan pintu kamar Beni yang tertutup.
“Sebentar bu, Beni ganti baju dulu..”
Tak lama Beni muncul dan mereka mulai berjalan kearah jalan raya yang tak jauh dari rumah. Menghentikan sebuah angkutan umum lalu menuju ke puskesmas. Suasana di puskesmas sangat ramai, maklum saja karena ini masih pagi. Setelah mendaftar, ibu dan Beni duduk menunggu giliran didepan ruang tunggu. Satu persatu orang keluar dan masuk di ruang tunggu. Lalu Beni menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang dulu sangat ia kagumi dan bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. Namun kini sosok itu seolah berubah menjadi monster.
“Ibu.. itu bapak.” Bisik Beni pelan pada ibu. Mendengar bisikan Beni, ibu segera mengangkat kepala dan mencari-cari. Ibu terpaku pada apa yang dilihatnya. Suaminya bersama seorang wanita yang sedang hamil !
Ibu berjalan dengan cepat menghampiri suami dan wanita itu. “Bapak ! apa yang sedang bapak lakukan disini dengan wanita hamil ini?” tanya ibu sambil menahan air mata agar tak jatuh.
“Kamu diam saja.. bukan urusanmu !” jawab bapak kasar lalu membuang muka. Beberapa orang yang antri periksa mulai melihat kearah ibu dan bapak Beni yang mulai bertengkar.
“Anakmu sakit tidak peduli, sekarang kamu juga disini pak.. di puskesmas, tapi dengan seorang wanita hamil. Dia siapa pak? jawab !”
“Dia istriku dan dalam perutnya itu anakku. Nah, aku peduli kan pada anakku.” Balas bapak. Ibu menatap tajam pada wanita yang duduk disamping suaminya ini, tangan mereka saling menggenggam tapi sedari tadi ia hanya menunduk.
“Kenapa kamu tega melakukan ini..” entah ibu berkata kepada siap. Mungkin pada bapak dan wanita barunya. Kemudian ibu duduk kembali disamping Beni. Air mata sudah tak sanggup lagi dibendungnya.
Tak lama kemudia sebuah panggilan periksa untuk Beni terdengar. Mereka segera bergegas masuk ke ruang dokter, setelah beberapa saat diperiksa ternyata Beni terserang maag. Setelah mengambil obat mereka pun menuju rumah. Selama di perjalanan ibu hanya diam, tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Di rumah, setelah membantu Beni makan dan minum obat ibu masuk kedalam kamar.
                                                                        ***
Suara gaduh kembali terdengar. Memaksa Beni membuka mata walau sebenarnya ia enggan. Suara pecahan kata kembali terdengar. Isakan ibu dan teriakan bapak mendominasi kegaduhan ini. Beni bangkit dari tempat tidur, tak bisa hanya berdiam diri. Saat mencapai pintu, pertama kali yang dilihatnya adalah vas bunga sudah hancur berkeping-keping. Lalu melihat ibu duduk lemas di kursi ruang tamu menangis sesenggukan sambil mendekap Neni, tangan ibu membelai kepala adiknya. Lalu matanya menangkap sosok yang menjadi sumber masalah dikeluarganya. Wanita hamil itu. Dia berdiri di samping pintu. Sedikit ketakutan melihat bapak, namun tak ada yang ia katakan maupun lakukan selain mengelus-elus perut buncitnya.
“Ibu tidak pernah sudi jika wanita itu tinggal disini pak..” ujar ibu tersendat.
“Memang tadi aku meminta persetujuanmu? aku membawa dia kesini untuk tinggal dirumah ini, bukan mendengar persetujuanmu. Wanita bodoh !”
Mendengar ibu diperlakukan semena-mena membuat darah Beni mendidih. Kali ini bapak sudah keterlaluan. Bahkan ia sengaja mengabaikan suara isak tangis ketakutan dari Neni.
“Sudah cukup pak, jangan menyakiti ibu lagi. Kenapa bapak lebih memilih wanita sialan itu daripada kami keluargamu sendiri?!” tuntut Beni dan mendapat tamparan dari bapaknya.
“Jaga mulutmu Ben, jangan kurang ajar sama orang tua. Beginikah didikan dari ibumu?” ejek bapak.
“Ibu selalu mendidik untuk sopan kepada yang lebih tua pak..” Beni menatap tajam wanita itu.” Tapi bagiku wanita itu tak pantas mendapatkan rasa hormatku.”
Mendengar kalimat itu membuat bapak semakin berang. Bapak menendang meja di ruang tamu hingga berguling. Ibu masih duduk dengan bahu berguncang dan isak tangis. Beni mendekat kearah ibu, lalu menggandeng Neni dan mengajaknya ke kamar agar tak menyaksikan pertengkaran lebih lama lagi. Sesampainya di kamar Neni,  adik kesayangannya itu belum juga diam. Hingga Beni mendengar suara ibunya antara isakan tangis Neni.
     “Ibu ingin bercerai saja dari bapak”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar