Pagi ini matahari bersinar terang.
Sangat khas sinar matahari dibulan Agustus. Terlihat kesibukan disalah satu
rumah didaerah perumahan sederhana pinggiran kota Semarang. Ya, rumah itu
adalah rumah milik keluarga Nurudin. Keluarga kecil yang terlihat bahagia,
namun akan lebih baik jika menengok lebih dalam. Karena yang terlihat bisa jadi
bukan yang sebenarnya terjadi.
“Maninah..
kenapa kopiku belum jadi?” suara serak khas bangun tidur milik Nurudin memenuhi
dapur kecil mereka. Nurudin melihat istrinya sibuk memasak entah apalah, ia
tidak tahu.
“Maaf
pak, ibu belum sempet membuat kopi untuk bapak. Beni...”
Praanggg
Belum sempat Maninah menyelesaikan
kalimatnya, ia melihat dari ekor mata suaminya melempar gelas yang ada di meja.
“Belum sempat bikin kopi?” suara Nurudin melengking tinggi. Membuat Maninah
berjingkat kaget.
“astaghfirullah
bapak.. kok dibanting gelasnya?” Maninah mengelus dada. “Beni sedang sakit pak,
demam sejak semalam. Ibu tadi buat bubur untuk Beni biar segera sarapan lalu
periksa ke Puskesmas.” Jelas Maninah tanpa ditanya.
“Halah
! alasan saja kamu. Bilang saja sudah tak sudi mengurus suami atau sudah
bosan?” tuduh Nurudin. Maninah menatap tak percaya pada suami yang sudah enam
belas tahun ini hidup bersama dengannya.
“Bapak
ngomong apa? mana mungkin ibu berpikiran seperti itu..” Nurudin hanya melengos,
mencomot bakwan di meja lalu berlalu kedalam rumah.
***
Didalam kamar Beni mendengar
pertengkaran itu. Lagi. Dan lagi. Rasanya ia sudah bosan dan muak. Ingin sekali
ia bangkit dari tempat tidur dan melerai mereka. Meminta ibunya untuk melawan
bapaknya, namun keinginannya tak terwujud. Bukan karena ibunya pasti tak kan
mau mendengarkan nasihatnya untuk melawan bapak tetapi karena ia kesulitan
untuk bangun. Beni merasa semuanya berputar-putar dan merasa mual.
“Wah
anak ibu sudah bangun..” Maninah masuk, berbinar melihat anaknya terlihat lebih
baik daripada keadaannya semalam. “Ayo sarapan dulu, nanti kita pergi ke
puskesmas.”
Beni hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya lagi, sudah cukup permasalahan
yang ada. Ia teringat dulu saat ia kecil, keadaan keluarganya sangat harmonis.
Kedua orang tuanya saling menyayangi. Tapi seolah ada badai yang merenggut
semua kebahagiaan itu hingga tak ada yang tersisa. Bapak berubah menjadi orang
tempramental dan kasar. Bahkan pada Neni, adik Beni yang baru berusia tujuh
tahun pun tak luput dari tindakan kasar bapak.
“Beni
udah merasa agak mendingan bu.. sudah tidak apa-apa Beni makan bubur ini
sendiri. Ibu buatkan kopi saja untuk bapak dan Neni pasti butuh bantuan ibu
untuk siap-siap sekolah.”
“kamu
beneran bisa Ben?” ibu terlihat cemas.
“Bisa
bu.. ibu tidak usah khawatir.” Akhirnya ibu tersenyum.
***
Pagi tadi setelah sarapan bapak langsung
pergi. Memang selain emosi dan perangai bapak berubah, ia juga menjadi sering keluar rumah. Ia tetap
bekerja sebagai supir pribadi salah satu orang terpandang di kota ini. Menurut
Beni, bapak berubah kira-kira sejak dua tahun lalu yaitu ketika Beni mulai masuk
SMP.
“Ben,
ibu sudah siap. Bagaimana berangkat sekarang?” tanya ibu didepan pintu kamar
Beni yang tertutup.
“Sebentar
bu, Beni ganti baju dulu..”
Tak lama Beni muncul dan mereka mulai
berjalan kearah jalan raya yang tak jauh dari rumah. Menghentikan sebuah
angkutan umum lalu menuju ke puskesmas. Suasana di puskesmas sangat ramai,
maklum saja karena ini masih pagi. Setelah mendaftar, ibu dan Beni duduk
menunggu giliran didepan ruang tunggu. Satu persatu orang keluar dan masuk di
ruang tunggu. Lalu Beni menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang dulu
sangat ia kagumi dan bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. Namun kini
sosok itu seolah berubah menjadi monster.
“Ibu..
itu bapak.” Bisik Beni pelan pada ibu. Mendengar bisikan Beni, ibu segera mengangkat
kepala dan mencari-cari. Ibu terpaku pada apa yang dilihatnya. Suaminya bersama
seorang wanita yang sedang hamil !
Ibu berjalan dengan cepat menghampiri
suami dan wanita itu. “Bapak ! apa yang sedang bapak lakukan disini dengan
wanita hamil ini?” tanya ibu sambil menahan air mata agar tak jatuh.
“Kamu
diam saja.. bukan urusanmu !” jawab bapak kasar lalu membuang muka. Beberapa
orang yang antri periksa mulai melihat kearah ibu dan bapak Beni yang mulai
bertengkar.
“Anakmu
sakit tidak peduli, sekarang kamu juga disini pak.. di puskesmas, tapi dengan
seorang wanita hamil. Dia siapa pak? jawab !”
“Dia
istriku dan dalam perutnya itu anakku. Nah, aku peduli kan pada anakku.” Balas
bapak. Ibu menatap tajam pada wanita yang duduk disamping suaminya ini, tangan
mereka saling menggenggam tapi sedari tadi ia hanya menunduk.
“Kenapa
kamu tega melakukan ini..” entah ibu berkata kepada siap. Mungkin pada bapak
dan wanita barunya. Kemudian ibu duduk kembali disamping Beni. Air mata sudah
tak sanggup lagi dibendungnya.
Tak lama kemudia sebuah panggilan
periksa untuk Beni terdengar. Mereka segera bergegas masuk ke ruang dokter,
setelah beberapa saat diperiksa ternyata Beni terserang maag. Setelah mengambil
obat mereka pun menuju rumah. Selama di perjalanan ibu hanya diam, tak satu
kata pun keluar dari bibirnya. Di rumah, setelah membantu Beni makan dan minum
obat ibu masuk kedalam kamar.
***
Suara gaduh kembali terdengar. Memaksa
Beni membuka mata walau sebenarnya ia enggan. Suara pecahan kata kembali
terdengar. Isakan ibu dan teriakan bapak mendominasi kegaduhan ini. Beni
bangkit dari tempat tidur, tak bisa hanya berdiam diri. Saat mencapai pintu, pertama
kali yang dilihatnya adalah vas bunga sudah hancur berkeping-keping. Lalu
melihat ibu duduk lemas di kursi ruang tamu menangis sesenggukan sambil
mendekap Neni, tangan ibu membelai kepala adiknya. Lalu matanya menangkap sosok
yang menjadi sumber masalah dikeluarganya. Wanita hamil itu. Dia berdiri di
samping pintu. Sedikit ketakutan melihat bapak, namun tak ada yang ia katakan
maupun lakukan selain mengelus-elus perut buncitnya.
“Ibu
tidak pernah sudi jika wanita itu tinggal disini pak..” ujar ibu tersendat.
“Memang
tadi aku meminta persetujuanmu? aku membawa dia kesini untuk tinggal dirumah
ini, bukan mendengar persetujuanmu. Wanita bodoh !”
Mendengar ibu diperlakukan semena-mena
membuat darah Beni mendidih. Kali ini bapak sudah keterlaluan. Bahkan ia
sengaja mengabaikan suara isak tangis ketakutan dari Neni.
“Sudah
cukup pak, jangan menyakiti ibu lagi. Kenapa bapak lebih memilih wanita sialan
itu daripada kami keluargamu sendiri?!” tuntut Beni dan mendapat tamparan dari
bapaknya.
“Jaga
mulutmu Ben, jangan kurang ajar sama orang tua. Beginikah didikan dari ibumu?”
ejek bapak.
“Ibu
selalu mendidik untuk sopan kepada yang lebih tua pak..” Beni menatap tajam
wanita itu.” Tapi bagiku wanita itu tak pantas mendapatkan rasa hormatku.”
Mendengar kalimat itu membuat bapak
semakin berang. Bapak menendang meja di ruang tamu hingga berguling. Ibu masih
duduk dengan bahu berguncang dan isak tangis. Beni mendekat kearah ibu, lalu
menggandeng Neni dan mengajaknya ke kamar agar tak menyaksikan pertengkaran
lebih lama lagi. Sesampainya di kamar Neni,
adik kesayangannya itu belum juga diam. Hingga Beni mendengar suara
ibunya antara isakan tangis Neni.
“Ibu ingin bercerai saja dari bapak”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar