Kamis, 13 November 2014

cerita rakyat



Mrapen
Mrapen adalah nama sebuah dukuh yang luasnya kurang lebih 8600 m2. Yang berada ditanah milik seseorang yang bernama Nyonya Parmirah ( alm ), yang terletaknya dipinggir jalan raya Semarang-Purwodadi yaitu 36 km dari semarang termasuk wilayah Desa Manggarmas Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Konon ceritanya, Pertama kali ini ditemukan oleh Sunan Kalijaga ketika beliau bersama rombongannya yang membawa benda-benda pusaka dari Kerajaan Majapahit dibawa ke Demak.


Dahulu pada masa Prabu Brawijaya V, Majapahit runtuh kira-kira tahun 1478 M. Salah satu penyebab runtuhnya Majapahit adalah karena serangan Prabu Girindrawardhana dari Keling Kediri. Kemudian Majapahit dapat dikuasai kerajaan Demak Bintoro sehingga Kerajaan Demak Bintoro mengambil semua benda-benda kerajaan Majapahit  dan dibawa ke Demak, peristiwa ini dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga. Ketika Sunan Kalijaga dan rombongan melakukan perjalanan ynag sangat jauh yaitu dari Majapahit menuju ke Demak, sampailah pada suatu tempat yang akhirnya diputuskan oleh Sunan Kalijaga untuk beristirahat sebentar. Dan disaat itu sebagian rombongan banyak yang merasa lelah, lapar dan haus. Kemudian beberapa orang ada yang memasak karena bekal yang dibawa sudah mulai habis dan bekal yang dibawa ada yang masih mentah. Pada saat itu pemukiman tidak ada api dan air bersih. Dan pada saat itulah Sunan Kalijaga dibantu oleh beberapa orang sambil berdo’a untuk memohon kepada Allah SWT agar mendapat api dan air. Setelah selasai berdo’a Sunan kalijaga berdiri sambil menancapkan tongkatnya, ketika saat itulah keajaiban datang keluarlahh api dari dalam tanah.

Kemudian berjalan agak ketimur beliau menancapkan tongkatnya lagi dan ketika dicabut menyemburkan air yang sangat jernih. Kemudian para pengikut Sunan Kalijaga begitu senangnnya karena dapat menemukann air dan api.

Setelah beberapa saat Sunan Kalijaga dan rombongannya beristirahat. Maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Demak lagi. Ketika hendak melanjutka perjalanan salah satu rombonganya ada yang mengeluh, karena barang bawaannya terlalu berat bahkan teman-teman yang lainnya pun juga tidak ada yang kuat untuk mengangkatnya. Benda itu berupa UMPAK tiang kerajaan Majapahit (landasan tiang). Karena benda itu berat dan tidak yang mampu mengangkatnya, maka Sunan Kalijaga memerintahkan untuk ditinggalkan saja, dan karena itu benda tersebut disebut dengan “ BATU BOBOT”, bobot itu artinya berat.

Selang beberapa hari kemudian Sunan Kalijaga teringat pada adiknya yang bernama Dewi Rosowulan. Ketika itu adiknya pergi dari rumah (dari kabupaten tuban), waktu itu Sunan Kalijaga masih bernama Raden Sahid putra Bupati Tuban ( Wilwatikta ). Karena Raden Sahid sering berbuat kurang baik maka beliau diusir dari rumahnya,  karena kakaknya diusir, maka Dewi Rosowulan juga ikut pergi.

Karena teringat adiknya maka Sunan Kalijaga mengutuskan salah satu pengikutnya ( Empu Supo ) untuk mencari adiknya. Empu Supo ini terkenal ahli pembuat keris yang bertugas membuat senjata perang kesultanan Demak. Maka berangkatlah Empu Supo untuk mencari Dewi Rosowulan, beliau dapat menemukan disekitar Sendang Beluk Desa Ngrajek ( Kabupaten Grobogan ) tapi anehnya Dewi Rosowulan sulit dipegang dan wujudnya menyerupai seekor kijang, karena sekian lama menjalani “Topo Ngidang” yaitu bertapa tanpa busana.
Lalu Empu Supo kembali ke Demak dengan tangan hampa. Sambil menghadap Sunan Kalijaga beliau menceritakann kejadian aneh itu. Lalu Sunan Kalijaga memberinya selembar selendang “CINDE”, hanya selendang itulah adiknya bisa dibawa pulang ke Demak. Dan berangkatlah Empu Supo ketempat pertapaan Dewi Rosowulan. Akhirnya dengan selendang itu Dewi Rosowulan dapat dibawa ke Demak.

Karena keberhasilannya itu akhirnya Empu Supo dinikahkan dengan Dewi Rosowulan. Tetapi sebelum dinikahkan, Sunan Kalijaga meminta untuk dibuatkan keris kepada Empu Supo. Keris itu dibuat disuatu tempat yang sudah ada batu,api dan airnya. Karena batu umpak untuk sebagai landasan, api untuk membakar dan sedangkan airnya untuk menyepuh ( nyelup ) keris. Dan akhirnya Empu Supo teringat dengan daerah Mrapen yang sudah ada batu, api dan airnya yang keanehan dalam Sunan Kalijaga.

Ditempat situlah Empu Supo membuat keris yang diberi nama keris Kyai Sengkelat atau Kyai Slamet. Uniknya keris ini dibuat tidak menggunakan alat pemukul ( palu ) tapi ditekan-tekan dengan jarinya. Ketika keris itu selesai lalu dicelupkan kedalam sendang, tiba-tiba airnya itu jernih mendadak menjadi keruh kekuning-kuningan. Kemudian Empu Supo dinikahkan dengan Dewi Rosowulan.

Karena keris yang dibuat Empu Supo dianggap ampuh, maka beliau diberi tugas oleh Sultan Demak untuk membuat pusaka kerajaan dan Mrapen dijadikan tempat pembuatan senjata kerajaan.

Sampai saat keris pembuatan Empu Supo sudah bermacam-macam diantaranya : kyai Sengkelat luk tiga belas, kyai Crubuk ( semacam patrem ), kyai Nugososro luk tiga belas, kyai Nogosiluman luk tiga belas, kyai Nogokikik luk tiga belas dan kyai Nogowelang luk tiga belas.

Dan peninggalan Sunan Kalijaga di Mrapen, yang telah saya ungkit sedikit diatas, maka sekarang saya akan menjelaskan yang lebih detail lagi tentang peninggalan Sunan Kalijaga di Mrapen.

1.      API ALAM ( API ABADI )
Api ini ditemukan pertama kali oleh Sunan Kalijaga dengan cara menancapkan tongkatnya ketanah. Oleh Empu Supo dipakai untuk membakar keris. Timbulnya api karena adanya gas yang keluar dari dalam tanah lalu terbakar. Pusat semburan gar berdiameter kurang lebih 1,5 m. dan makanya sekarang diberi tumpukan batu kapur agar tidak membahayakan orang, karena jika siang hari api tidak kelihatan. Pusat api dapat bergeser, bila api bergeser tumpukan batu dipindahkan sesuai gesernya api. Api ini sebenarnya bisa mati atau padam, apalagi bila hujan deras yang disertai angina kencang.

Tapi jika api mati, cukup dinyalakan dengan korek api diatasnya, jadi api akan menyala lagi. Dinamakan Api Abadi itu bukan berarti tidak pernah mati, melainkan api tersebut DIABADIKAN sampai sekarang.

Api itu bisa kelihatan jika diberi kertas atau daun yang kering diatasnya. Gas yang keluar hanya melalui pori-pori tanah, tidak ada lubang besar (sumurnya). Api ini emang dulunya besar, tapi sejak tahun 1992 api semakin kecil. Sudah berbagai cara untuk mengupayakan agar apinya tetap kayak dulu lagi, tapi sampai sekarang belum membuahkan hasil.

Kemungkinan penyebab mengecilnya api itu disebabkan oleh :
1.      Banyak pohon yang tumbang disekelilingnya sehingga tidak ada penyerapan air, sehingga kalau hujan tanahnya menjadi becek.
2.      Banyaknya pengeboran gas secara liar disekitar Mrapen.
3.      Tertutupnya pori-pori gas oleh lapisan tanah, sehingga gas kurang lacar.
4.      Semakin menipisnya cadangan gas dalam tanah kerna factor alam.

2.      SENDANG atau SUMUR
Sendang ini ketika ditemukan Sunan Kalijaga airnya kelihatan jernih banget, tapi semenjak digunakan untuk menyepuh ( nyelup ) keris Kyai Sengkelat oleh Empu Supo airnya berubah menjadi keruh agak kekuning-kuningan an kelihatan mendidih tetapi tidak panas.

Letaknya kurang lebih 25 m disebelah timur api abadi. Bentuknya menyerupai sumur dengan diameter kurang lebih 5 m dan kedalaman hanya sekitar 1.5 meter. Orang-orang sekitarnya sering menyebutnya “ SENDANG DUDO “. Kelihatan mendidih ini disebabkan oleh ada gas yang keluar dari sumur. Sendang ini sekarang juga mengalami seperti api yaitu gas yang dikeluarin semakin kecil sehingga kelihatan tidak mendidih lagi. Sebagian masyarakat percaya kalau sendang itu mengandung belerang, sehingga dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit.

3.      BATU BOBOT
Batu ini terletak dirumah kecil sebelah utara api, benda ini menyerupai umpak yang diberi nama “ BATU BOBOT “ yang artinya batu berat. Batu ini konon ceritanya adalah umpak atau landasan salah satu tiang kerajaan Majapahit yang sebenarnya hendak mau dibawa ke Demak. Tapi oleh Sunan Kalijaga ditinggal karena dapat memperlambat perjalanan. Batu ini kemudian digunakan oleh Empu Supo untuk landasan membuat keris Kyai Sengkelat.

Batu itu sekarang kondisinya pecah karena pada zaman belanda ada yang memaksakan diri untuk mengangkatnya lalu dijatuhkan begitu saja. Kemudian oleh juru kunci diikat dengan ijuk tapi sekarang diraut dengan tali plastik. Berat batu itu kurang kebih 20 kg. Tetapi batu ini mempunyai keanehan, ketika diangkat kadang beratnya lebih dari 20 kg kadang juga bisa kurang 20 kg.

Karena keanehan itulah bnyak orang yang datang untuk minta berkah yaitu untuk meramal nasib dengan cara mengangkat batu tersebut. Tapi ada tata cara ritual yang harus dipenuhi para peziarah da nada tata cara perziarah untuk mengangkat batu bobot itu yaitu :
o   Minta juru kunci untuk mengantar membukain pintu batu bobot, karena pintu selalu tertutup untuk menjaga keamanan.
o   Mempunyai tujuan khusus ziarah ( tidak boleh coba-coba ) dan sebaiknya membawa bunga telon ( mawar, cempaka, kenanga ), itu semua agar batu itu mempunyai kekuatan megic.
o   Sambil menabur bunga posisi duduk bersila bagi pria dan dua kaki ditekuk  untuk wanita, mengucapkan do’a dan berserah diri kepada Allah SWT lalu batu itu diangkat. Apabila cocok maka batu akan terasa ringan dari 20 kg, tapi kalau tidak cocok maka akan terasa berat melebihi 20 kg. tapi ada beberapa keungkinan yaitu :
-          persyaratan kurang lengkap.
-          Karena hanya coba-coba mengangkat ( tidak mempunyai tujuan khusus )
-          Kurang konsentrasi dalam mengucap do’a.
*****


Narasumber : Mbah Rubiatno juru kunci sekaligus pengelola mrapen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar