Malam itu,
ketika rembulan bersinar terang. Dasimah sedang melamun diteras rumahnya sambil
melihat bintang-bintang bertaburan diatas sana.
Saat itulah Miun suaminya
mencari-carinya.
“ Sayanggggggg..... kamu dimana,”
panggil miun kepada istrinya.
Tersentak kaget lamunan Dasimah pun
dipecahkan oleh panggilan suaminya dari dalam rumah, dan Dasimah pun dengan
suara terbata-bata menjawabnya, “ i.. iya sayang, aku disini di depan rumah “.
Kemudian tanpa menunggu lama Miun pun
menghampirinya.
“ Sedang apa kamu disini sayang, “tanya
Miun.
“ Ini lho sedang melihat bintang-bintang
diatas sana, coba kamu lihat deh sayang bintangnya sangat indah.” Jawab Dasimah.
“ Iya sayang bintangnya sangat indah
seperti bola matamu, “ rayu miun kepada istrinya. Tapi angin malam tidak baik
untuk kandunganmu sayang. Ayo kita masuk, “ diajaknya Dasimah masuk.
Dengan muka cemberut Dasimah pun
mengikuti ajakan suaminya untuk masuk kedalam rumah.
Pagi hari pun tiba, dengan hidangan
yang istimewa yang diberi bumbu cinta. Miun pun sebelum berangkat kekantor
menyantap dengan lahapnya masakan Dasimah istrinya.
Hem.. enak juga ya masakanmu sayang,”
kata Miun dengan menikmati makanannya.
Tanpa waktu lama hidangan yang ada di
meja pun habis ludes disantap Miun tanpa sisa sama sekali.
Dengan hati senang karena masakannya
disukai suaminyA, sebagai istri yang baik Dasimah pun juga mengantarkan
suaminya sampai ke depan rumah dan membawakan tas kantornya sekaligus mengecek
kerapian pakaian dan dasi suaminya.
“ Hati-hati dijalan ya sayang, jangan
ngebut-ngebut naik mobilnya, “ kata Dasimah sambil melambaikan tangan ke
suaminya.
“ Iya sayang, hati-hati juga dirumah dan
jaga baik-baik anak kita yang sedang kamu kandung “, timpal Miun kepada
istrinya.
Setelah suaminya berangkat kerja, dengan
hati yang berdebar-debar, Dasimah pun masuk ke dalam rumah dan dengan tersentak
kaget Dasimah melihat Hayati istri pertama miun sudah berada diambang pintu.
“ Pagi, sudah dari tadi mbak kamu
disini, “ sapa Dasimah kepada Hayati.
Tanpa sedikit jawaban pun tidak terlontarkan
dari mulut Hayati. Karena Dasimah seorang
perempuan yang pendiam, lemah lembut dan baik hati, maka Dasimah pun
sedikit mengalah dari pada harus berdebat dengan Hayati. Karena Dasimah sudah
mengetahui sifat Hayati yang brandalan, suka main judi, mabok-mabokan dan
jarang pulang kerumah, maka Dasimah tidak pernah mempermaslahkan hal tersebut,
karena sifat tersebutlah Miun pun mencoba mencari pengganti Hayati, dan
akhirnya Miun sekarang ini sudah menemukan pengganti Hayati yaitu Dasimah
istrinya sekarang yang sedang mengandung
anaknya tersebut. Tapi dengan begitu, Hayati tidak mau di ceraikan, akhirnnya Miun
memutuskan untuk poligami yaitu tidak menceraikan Hayati tetapi tetap menikahi
Dasimah sampai sekarang ini. Seperti perempuan biasanya, hayati tidak terima
kalau dirinya di poligami, maka dari itulah Hayati benci dan ingin mencelakakan
Dasimah, apalagi ketika Hayati mengetahui kalau Dasimah sedang mengandung anak
dari Miun suaminya, cara apapun akan Hayati lakukan untuk melenyapkan Dasimah
dan anak yang sedang dikandungnya itu.
Seperti biasanya ketika suaminya tidak
dirumah Hayati pun semena-mena terhadap Dasimah, Dasimah dijadikan pembantu
dirumahnya ketika suaminya tidak berada dirumah.
“ Kalau Dasimah kecapekan maka
kandungannya akan mengalami keguguran, “ fikir Hayati.
Tanpa pembelaan Dasimah pun menuruti
pemintaan hayati untuk mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mengepel
sampai-sampai untuk memijat Hayati pun Dasimah lakukan. Tetapi ketika suaminya
sudah pulang, maka sifat arogan Hayati akan berganti dengan sifat yang manis
dan baik kepada Dasimah.
Karena setiap hari hayati melihat Dasimah
dan Miun bermesra-mesraan, Hayati pun merasa cemburu karena Miun sejak
mempunyai istri baru, Miun tidak pernah memperhatikannya. Sehingga Hayati pun
putus asa dan merasa tidak dipedulikan dirumahnya. Akhirnya Hayati pun pergi
menemui teman-temanya untuk berjudi dan mabok-mabokan.
Karena uang untuk berjudi dan mabok-mabokan
sudah habis, maka Hayati kembali pulang kerumah. Ketika sampai dirumah
didapatinya kalau Dasimah memakai kalung, dengan inisiatifnya Hayati ingin
mengambil kalung tersebut untuk dijadikan modal judinya, karena Hayati sudah
kehabisan uang karena kalah judi.
“ Cuci pakaian ini sampai bersih!, “
bentak Hayati kepada Dasimah.
“ Iya mbak, “ Dengan muka polosnya Dasimah
pun menuruti permintaan Hayati tersebut.
Dengan begitu Hayati akan mengambil
kalung tersebut dari belakang.
“ Aku akan mengambil kalung Dasimah,
ketika Dasimah sedang asyik mencuci pakaian,” kata Hayati didalam hati.
setelah berhasil mendapatkan kalung Dasimah
tersebut, Hayati langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan perasaan hati Dasimah.
Akhirnya Dasimah pun sedih dan menangis, karena kalung tersebut peninggalan
dari Mak Buyung ibundanya.
“ Ada apa sayang, kok menangis, “
dikagetkannya suara suaminya yang sudah berada disampingnya.
“ Kalung peninggalan Mak Buyung diambil
oleh Hayati, “ jawab Dasimah sambil menangis bersedu-sedu.
“ Kurang ajar Hayati, “ timpal Miun
sedikit emosi
“ Sudah sayang ntar kita beli yang baru
lagi,” kata Miun.
“ Tapi kalung itu peninggalan Mak Buyung,”
jawab Dasimah.
Sudah-sudah jangan terlalu difikirkan itu,
ntar ada apa-apa dengan bayi kita. Eh iya sayang, ntar malam ada film
kesukaanmu dibioskop lho ?, kita nonton yuk biar kamu tidak sedih terus, masalah
kalung ntar aku mintake kepada Hayati, “ rayu Miun kepada istriny.
Karena rayuan Miun itulah Dasimah pun
mengikuti ajakan suaminya untuk melihat film kesukaannya di bioskop ntar malam.
Tetapi ternyata, ajakan Miun kepada Dasimah
untuk melihat film diketahui oleh Hayati. Dengan begitu Hayati merasa sangat
guram dan marah.
“ Dasimah memang perempuan tidak tahu
diri, aku harus bisa membatalkan acara tersebut, “ gumam Hayati.
Dengan segala cara Hayati telah menyusun
cara untuk membatalkan acara Dasimah dan Miun.
“ Sudah siap sayang, kita akan menonton
film kesukaanmu, “ kata Miun.
“ Sudah, ayo sayang, “ jawab Dasimah
dengan hati senang.
Sesampainya dijalan, mobil yang dinaiki
Miun dan Dasimah mogok , akhirnya Miun pun turun dari mobil untuk mengecek
mesinnya. Pada saat itu juga Hayati sedang membututi mereka berdua dari
kejauhan.
“ Mobilnya kenapa sayang, “ tanya Dasimah
“ Tidak tahu sayang, kayaknya mesinnya
bermasalah, “ jawab Miun
Dari kejauhan Hayati pun berkata “ Rasakan
itu, kau tidak pantas masuk bioskop untuk menonton film bersama suamiku”. Cara yang
kesatu Hayati pun berjalan dengan lancar.
Ketika Miun asyik mengotak-atik
mesinnya, Miun sampai tidak memperhatikan Dasimah didalam mobil.
Dengan begitu, Hayati akan melaksanakan
cara selanjutnya yaitu menusuk Dasimah dari belakang.
“ Sayang tolong ambilkan air didalam
mobil, ini air radiatornya habis,“ minta Miun
Dasimah pun menjawab. “ iya sayang “.
Dengan segera Dasimah pun keluar dari
mobil dan membawa air botolan untuk suaminya Miun.
Tetapi ketika baru turun dari mobil Hayati
dengan cepatnya langsung menusuk Dasimah dari belakang.
Sayanggggggggggggggggggggg... !!!, “
panggil Dasimah ketika pisau itu sudah menancap diperutnya. Dengan sigapnya Miun
pun langsung lari menuju istrinya dan ketika itu miun juga berhasil menangkap Hayati.
Karena ulah Hayati itulah Miun pun
dengan terpaksa ingin melaporkan Hayati kepolisian. Namun niat Miun untuk
melaporkan Hayati kepolisian tidak disetujui oleh Dasimah yang pada saat itu Dasimah
sedang di rawat dirumah sakit.
Dengan kebaikan hati Dasimah, akhirnya Hayati
tidak jadi dilaporkan ke pihak kepolisian. Pada saat itulah Hayati menyadari
semua kesalahannya yang sudah dilakukanya terhadap Dasimah dan hayati meminta
maaf kepada Dasimah.
Sekarang Hayati sudah menjadi perempuan
yang baik-baik dan membantu Dasimah mengurus anaknya sekaligus mengurus rumahnya
berdua, sehingga sekarang ini mereka menjadi keluarga yang bahagia.
By : Heny Dwi Budi Winarni (2101413115)
Semarang, November 2014
ih blognya kereen, ada lagunya. tapi playlistnya diganti dong. request apa yaa hmm.. lagu sakitnya tuh disini aja. makasiiih
BalasHapus