Rabu, 10 Desember 2014

Kau Tikam Aku dari Belakang !

Malam itu, ketika rembulan bersinar terang. Dasimah sedang melamun diteras rumahnya sambil melihat bintang-bintang bertaburan diatas sana.
Saat itulah Miun suaminya mencari-carinya.
“ Sayanggggggg..... kamu dimana,” panggil miun kepada istrinya.
Tersentak kaget lamunan Dasimah pun dipecahkan oleh panggilan suaminya dari dalam rumah, dan Dasimah pun dengan suara terbata-bata menjawabnya, “ i.. iya sayang, aku disini di depan rumah “.
Kemudian tanpa menunggu lama Miun pun menghampirinya.
“ Sedang apa kamu disini sayang, “tanya Miun.
“ Ini lho sedang melihat bintang-bintang diatas sana, coba kamu lihat deh sayang bintangnya sangat indah.” Jawab Dasimah.
“ Iya sayang bintangnya sangat indah seperti bola matamu, “ rayu miun kepada istrinya. Tapi angin malam tidak baik untuk kandunganmu sayang. Ayo kita masuk, “ diajaknya Dasimah masuk.
Dengan muka cemberut Dasimah pun mengikuti ajakan suaminya untuk masuk kedalam rumah.

            Pagi hari pun tiba, dengan hidangan yang istimewa yang diberi bumbu cinta. Miun pun sebelum berangkat kekantor menyantap dengan lahapnya masakan Dasimah istrinya.
Hem.. enak juga ya masakanmu sayang,” kata Miun dengan menikmati makanannya.
Tanpa waktu lama hidangan yang ada di meja pun habis ludes disantap Miun tanpa sisa sama sekali.
Dengan hati senang karena masakannya disukai suaminyA, sebagai istri yang baik Dasimah pun juga mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah dan membawakan tas kantornya sekaligus mengecek kerapian pakaian dan dasi suaminya.
“ Hati-hati dijalan ya sayang, jangan ngebut-ngebut naik mobilnya, “ kata Dasimah sambil melambaikan tangan ke suaminya.
“ Iya sayang, hati-hati juga dirumah dan jaga baik-baik anak kita yang sedang kamu kandung “, timpal Miun kepada istrinya.
Setelah suaminya berangkat kerja, dengan hati yang berdebar-debar, Dasimah pun masuk ke dalam rumah dan dengan tersentak kaget Dasimah melihat Hayati istri pertama miun sudah berada diambang pintu.
“ Pagi, sudah dari tadi mbak kamu disini, “ sapa Dasimah kepada Hayati.
Tanpa sedikit jawaban pun tidak terlontarkan dari mulut Hayati. Karena Dasimah seorang  perempuan yang pendiam, lemah lembut dan baik hati, maka Dasimah pun sedikit mengalah dari pada harus berdebat dengan Hayati. Karena Dasimah sudah mengetahui sifat Hayati yang brandalan, suka main judi, mabok-mabokan dan jarang pulang kerumah, maka Dasimah tidak pernah mempermaslahkan hal tersebut, karena sifat tersebutlah Miun pun mencoba mencari pengganti Hayati, dan akhirnya Miun sekarang ini sudah menemukan pengganti Hayati yaitu Dasimah istrinya sekarang  yang sedang mengandung anaknya tersebut. Tapi dengan begitu, Hayati tidak mau di ceraikan, akhirnnya Miun memutuskan untuk poligami yaitu tidak menceraikan Hayati tetapi tetap menikahi Dasimah sampai sekarang ini. Seperti perempuan biasanya, hayati tidak terima kalau dirinya di poligami, maka dari itulah Hayati benci dan ingin mencelakakan Dasimah, apalagi ketika Hayati mengetahui kalau Dasimah sedang mengandung anak dari Miun suaminya, cara apapun akan Hayati lakukan untuk melenyapkan Dasimah dan anak yang sedang dikandungnya itu.
Seperti biasanya ketika suaminya tidak dirumah Hayati pun semena-mena terhadap Dasimah, Dasimah dijadikan pembantu dirumahnya ketika suaminya tidak berada dirumah.
“ Kalau Dasimah kecapekan maka kandungannya akan mengalami keguguran, “ fikir Hayati.
Tanpa pembelaan Dasimah pun menuruti pemintaan hayati untuk mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mengepel sampai-sampai untuk memijat Hayati pun Dasimah lakukan. Tetapi ketika suaminya sudah pulang, maka sifat arogan Hayati akan berganti dengan sifat yang manis dan baik kepada Dasimah.
Karena setiap hari hayati melihat Dasimah dan Miun bermesra-mesraan, Hayati pun merasa cemburu karena Miun sejak mempunyai istri baru, Miun tidak pernah memperhatikannya. Sehingga Hayati pun putus asa dan merasa tidak dipedulikan dirumahnya. Akhirnya Hayati pun pergi menemui teman-temanya untuk berjudi dan mabok-mabokan.
Karena uang untuk berjudi dan mabok-mabokan sudah habis, maka Hayati kembali pulang kerumah. Ketika sampai dirumah didapatinya kalau Dasimah memakai kalung, dengan inisiatifnya Hayati ingin mengambil kalung tersebut untuk dijadikan modal judinya, karena Hayati sudah kehabisan uang karena kalah judi.
“ Cuci pakaian ini sampai bersih!, “ bentak Hayati kepada Dasimah.           
“ Iya mbak, “ Dengan muka polosnya Dasimah pun menuruti permintaan Hayati tersebut.
Dengan begitu Hayati akan mengambil kalung tersebut dari belakang.
“ Aku akan mengambil kalung Dasimah, ketika Dasimah sedang asyik mencuci pakaian,” kata Hayati didalam hati.
setelah berhasil mendapatkan kalung Dasimah tersebut, Hayati langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan perasaan hati Dasimah. Akhirnya Dasimah pun sedih dan menangis, karena kalung tersebut peninggalan dari Mak Buyung  ibundanya.
“ Ada apa sayang, kok menangis, “ dikagetkannya suara suaminya yang sudah berada disampingnya.
“ Kalung peninggalan Mak Buyung diambil oleh Hayati, “ jawab Dasimah sambil menangis bersedu-sedu.
“ Kurang ajar Hayati, “ timpal Miun sedikit emosi
“ Sudah sayang ntar kita beli yang baru lagi,” kata Miun.
“ Tapi kalung itu peninggalan Mak Buyung,” jawab Dasimah.
Sudah-sudah jangan terlalu difikirkan itu, ntar ada apa-apa dengan bayi kita. Eh iya sayang, ntar malam ada film kesukaanmu dibioskop lho ?, kita nonton yuk biar kamu tidak sedih terus, masalah kalung ntar aku mintake kepada Hayati, “ rayu Miun kepada istriny.
Karena rayuan Miun itulah Dasimah pun mengikuti ajakan suaminya untuk melihat film kesukaannya di bioskop ntar malam.
Tetapi ternyata, ajakan Miun kepada Dasimah untuk melihat film diketahui oleh Hayati. Dengan begitu Hayati merasa sangat guram dan marah.
“ Dasimah memang perempuan tidak tahu diri, aku harus bisa membatalkan acara tersebut, “ gumam Hayati.
Dengan segala cara Hayati telah menyusun cara untuk membatalkan acara Dasimah dan Miun.
“ Sudah siap sayang, kita akan menonton film kesukaanmu, “ kata Miun.
“ Sudah, ayo sayang, “ jawab Dasimah dengan hati senang.
Sesampainya dijalan, mobil yang dinaiki Miun dan Dasimah mogok , akhirnya Miun pun turun dari mobil untuk mengecek mesinnya. Pada saat itu juga Hayati sedang membututi mereka berdua dari kejauhan.
“ Mobilnya kenapa sayang, “ tanya Dasimah
“ Tidak tahu sayang, kayaknya mesinnya bermasalah, “ jawab Miun
 Dari kejauhan Hayati pun berkata “ Rasakan itu, kau tidak pantas masuk bioskop untuk menonton film bersama suamiku”. Cara yang kesatu Hayati pun berjalan dengan lancar.
Ketika Miun asyik mengotak-atik mesinnya, Miun sampai tidak memperhatikan Dasimah didalam mobil.
Dengan begitu, Hayati akan melaksanakan cara selanjutnya yaitu menusuk Dasimah dari belakang.
“ Sayang tolong ambilkan air didalam mobil, ini air radiatornya habis,“ minta Miun
Dasimah pun menjawab. “ iya sayang “.
Dengan segera Dasimah pun keluar dari mobil dan membawa air botolan untuk suaminya Miun.
Tetapi ketika baru turun dari mobil Hayati dengan cepatnya langsung menusuk Dasimah dari belakang.
Sayanggggggggggggggggggggg... !!!, “ panggil Dasimah ketika pisau itu sudah menancap diperutnya. Dengan sigapnya Miun pun langsung lari menuju istrinya dan ketika itu miun juga berhasil menangkap Hayati.
Karena ulah Hayati itulah Miun pun dengan terpaksa ingin melaporkan Hayati kepolisian. Namun niat Miun untuk melaporkan Hayati kepolisian tidak disetujui oleh Dasimah yang pada saat itu Dasimah sedang di rawat dirumah sakit.
Dengan kebaikan hati Dasimah, akhirnya Hayati tidak jadi dilaporkan ke pihak kepolisian. Pada saat itulah Hayati menyadari semua kesalahannya yang sudah dilakukanya terhadap Dasimah dan hayati meminta maaf kepada Dasimah.
Sekarang Hayati sudah menjadi perempuan yang baik-baik dan membantu Dasimah mengurus anaknya sekaligus mengurus rumahnya berdua, sehingga sekarang ini mereka menjadi keluarga yang bahagia.



By : Heny Dwi Budi Winarni (2101413115)
Semarang, November 2014

1 komentar:

  1. ih blognya kereen, ada lagunya. tapi playlistnya diganti dong. request apa yaa hmm.. lagu sakitnya tuh disini aja. makasiiih

    BalasHapus